Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Papua × Puisi
By : A.Yance W.Y.
Saudaraku west Papua
Laskar-laskar muda-mudi Wantara/Papua
Marilah kita bangkitkan juang
semangat
Bersatu padu dan bergandeng tangan
Majulah serentak tanpa mundur
Untuk menerobos benteng-benteng
pertahanan kloni jawa di seluruh tanah Papua Barat
Untuk merebut kembalitanah jajahan
indonesia
dan mengambilnya dengan seutuhnya
di tangan gadis-gadis Papua
salam merdeka, merdeka tetap merdeka.
--------------------------------------------------------------------------------------
Sumber : PAPUAnews.
Publisher : watchPAPUA/Volume 2/Edisi Maret 2005/hal.47
Papua × Puisi
Petang sepi, aku bisik mama
Mengapa aku hidup tanpa Ayah?
Mungkinkah aku tinggalkan
sanak-saudaraku?
Kemana Ayahku pergi?
Dimana saudara-saudaraku berada?
Siapa yang memangil mereka?
Siapa yang membawa mereka?
Siapa yang menjemputnya?
Bukankah Pemuda Wantara/Papua?
Bukankah Pemudi Wantara/Papua?
Oh...anakku sayang, anakku manis,
Anakuku yang kucintai
Jangan kau bimbang hatimu....
Jangan kau ragukan jiwamu...
Asal kau genggamkan jejaknya,
jadikan pahlawanmu.
--------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber : PAPUAnews.
Publisher : watchPAPUA/Volume 2/Edisi Maret 2005/hal.47.
Papua × Puisi
By
Dewa71.
Demi sebuah Harga Diri dan
Kehormatan,
kelasku kugantung
Bukupun tertutup rapat
terasa berat beban sejarah yang harus
dipikul
Air mata kering terasa pahit
tersimpan dalam dadaku
Terdengar alunan seruling tulang
belulang
Dendangkan NyanyianJiwa”Hai Tanahku
Papua”
Membuat tak bisa berhenti
berpikir,walau sebentar,
yang di hutan mengembara tak perna
lelah
walau hanya dengan Panah dan Tombak
demi Tanah PerjanjianTUHANnya
Tenggelam dalam lembah sejarah
kutelusuri dimana kesalahan bangsaku
hingga harus begini,
Mohon ampun yaTuha,Allah Maha
Pencipta
Bangsa Papua atas segala dosa bansaku
Jangan berpaling darikami
datanglah hari ini
Urapi berkat-Mu
dan datanglah menjadi Raja atas tanah
dan bangsa kami
AMIN.
---------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber : PAPUAnews.
Publisher : watchPAPUA/Volume 2/Edisi Maret 2005/Hal.47.
Puisi × Sejarah
Ibu! aku merindumu ibu.
Setiap saat aku merinduhkan pelukanmu, ibu.
Aku rindu ibu, rindu saat-saat kau memandangiku memikmati
hidup.
Tengorokanku kering kehausan; tak ada yang memberiku air
memuaskan dahagaku selayaknya ibu.
Perutku tak terisi makanan, kurindu masakanmu, ibu.
Aku terlantar sejak kau diculik mereka.
Seakan aku tanpa ibu di planet bumi ini.
Aku rindu, Rindu Ibuku yang menghidupiku.
Hingga kini, 53 tahu aku merinduhkanmu, ibu.
Setiap saat aku menanti. Kunanti kau ibu, kau yang selalu menghidupiku,
ibu.
Kumenantimu, ibu. Kau yang diculik sejak itu.
Kumenanti kau, ibu. kau yang diikat mereka sejak aku tak
berdaya kala itu.
Kumenanti kau, ibu. kau yang dipukul mereka ketika aku tak
mampu membelamu.
Kumenanti kau, ibu. kau yang dijual-belikan mereka saat itu.
Kumenanti kau, ibu. kau yang dikurung mereka ketika aku tak
mampu melepaskanmu.
Kumenantimu, ibu. menanti kau yang dibawa pergi mereka saat,
bahkan aku tak lihat wajahmu.
Kumenantimu disetiap waktuku di ujung timur tempat sang
pemberi kehangatan keluar.
Kumenantimu ibu. Ibu… ibu…
Sudah 53 tahun aku menantimu, ibu.
Menanti ibuku dibebaskan. Menanti ibuku dipulangkan. Menanti ibuku
dilepaskan.
Menanti sang ibu yang menghidupku.
Selamat
Memperingati hari Aneksasi tanah Papua, 1 Mei 2016.
Selamat memperingati
hari sang Ibu dimasukan dalam kurungan NKRI.
#105, Kamasan 1.
1 Mei 2016
Telius Yikwa
